KETUHANAN
ketuhanan yang disalah artikan dalam konteks kehidupan .Tuhan cuma dijadikan simbol ,agama dijadikan status pribadi yang tak pernah diyakini.hanya tertulis dalam surat.
wai sahabatku saya mengajak kalian semua mari.
kita tanamkan rasa ketuhanan itu yang paling atas dan agama sebagai dasar kita mempercayai adanya Tuhan.dan pristiwa yang kita lihat sebagai kuasa Tuhan.yang tak mampu kita logika oleh pikiran kita ..
KITA MERASAKAN ADANYA TUHAN. JANGAN PERNAH BERFIKIR WUJUDNYA TUHAN
TUhan tidak bersekutu ,beranak dan tidak ada mahluk yang meyerupai.
Surah Al Hajj 70
أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ
إِنَّ ذَلِكَ فِي كِتَابٍ إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ (70)
Ayat ini menegaskan kepada Nabi Muhammad saw, tentang keluasan ilmu
Allah. Sekalipun Nabi Muhammad yang dituju dalam ayat ini termasuk di
dalamnya seluruh umatnya. Seakan-akan Allah mengatakan kepadanya,
"Apakah engkau tidak mengetahui hai Muhammad, bahwa ilmu Allah itu amat
luas, meliputi segala apa yang ada di langit dan segala apa yang ada di
bumi, tidak ada sesuatupun yang luput dari ilmu-Nya itu, walaupun barang
itu sebesar zarah (atom) atau lebih kecil lagi dari atom itu, bahkan
Dia mengetahui segala yang tergores di dalam hati manusia. Semua ilmu
Allah itu tertulis di Lohmahfuz, ialah suatu kitab yang di dalamnya
disebutkan segala yang ada dan kitab itu telah ada dan lengkap mempunyai
catatan sebelum Allah SWT menciptakan langit dan bumi. Menurut Abu
Muslim AlAsfihani: yang dimaksud dengan kitab dalam ayat ini ialah
pemeliharaan sesuatu dan pencatatannya dengan sempurna. Tidak ada
sesuatu yang tidak terdapat di dalamnya. Hal inilah yang merupakan ilmu
Allah. Pengetahuan yang amat sempurna dan pencatatan yang lengkap
tentang segala sesuatu serta penetapan hukum yang akan dijadikan bahan
pengadilan di akhirat kelak tidaklah sukar bagi Allah. Dia menetapkan
sesuatu di akhirat nanti dengan seadil-adilnya, karena segala macam yang
dijadikan bahan pertimbangan telah ada pada-Nya tidak ada yang kurang
sedikitpun.
وَمَا تَكُونُ فِي شَأْنٍ وَمَا تَتْلُو مِنْهُ مِن قُرْآنٍ وَلَا
تَعْمَلُونَ مِنْ عَمَلٍ إِلَّا كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُودًا إِذْ
تُفِيضُونَ فِيهِ وَمَا يَعْزُبُ عَن رَّبِّكَ مِن مِّثْقَالِ ذَرَّةٍ فِي
الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَلَا أَصْغَرَ مِن ذَٰلِكَ وَلَا أَكْبَرَ
إِلَّا فِي كِتَابٍ مُّبِينٍKamu tidak berada dalam suatu keadaan dan
tidak membaca suatu ayat dari Al Quran dan kamu tidak mengerjakan suatu
pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu
melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar
zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan
tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam
kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (Yunus: 61)
Allah swt. menyeru Rasul-Nya dan umat manusia yang menaatinya, bahwa
pada saat Rasulullah melaksanakan urusan yang penting yang menyangkut
masyarakat pada saat membacakan ayat-ayat Alquran yang mengatur semua
urusan itu dan pada saat manusia melaksanakan amal perbuatannya tidak
ada yang terlepas dari pengawasan Allah. Dia menyaksikan semua amal
perbuatan itu pada saat dilakukannya. Yang termasuk urusan penting dalam
ayat ini ialah segala macam urusan yang menyangkut kepentingan umat
seperti urusan dakwah Islamiah, yaitu mengajak umat agar mengikuti jalan
yang lurus dengan cara yang bijaksana dan suri teladan yang baik,
membangunkan kesadaran umat agar tertarik untuk melakukan perintah agama
dan menjauhi larangan-larangan-Nya termasuk pula urusan pendidikan umat
dan cara-cara merealisir pendidikan itu hingga menjadi kenyataan yang
berfaedah bagi kesejahteraan umat. Disebutkan pula bahwa ayat-ayat
Alquran yang dibaca itu mencakup semua urusan berdasarkan pola-pola
pelaksanaannya, tidak boleh menyimpang daripadanya karena urusan segala
umat secara prinsip telah diatur dalam kitab itu. Kemudian disebutkan
semua amalan yang dilakukan oleh hamba-Nya agar kaum muslimin tergugah
hatinya untuk melakukan perbuatan yang telah digariskan oleh wahyu yang
diturunkan pada Rasul-Nya, dan mempedomani fungsi isi dari wahyu itu
dalam urusannya sehari-hari, serta menaati Rasul karena apa yang
diucapkan dan dikerjakan Rasul itu menjadi suri teladan yang baik bagi
seluruh umat. Dalam ayat itu Allah swt. menandaskan, bahwa segala macam
amalan yang dilakukan oleh hamba-Nya, tidak ada satu pun yang terlepas
dari ilmu Allah meskipun amalan itu lebih kecil dari benda yang
terkecil, atau pun urusan itu maha penting sehingga tak terkendalikan
oleh manusia. Disebutkannya urusan yang kecil dari yang terkecil dan
urusan yang maha penting agar tergambar dalam hati para hamba-Nya, bahwa
ilmu Allah itu begitu sempurna sehingga tidak ada satu urusan pun yang
terlepas dari ilmu-Nya, bagaimanapun remehnya urusan itu dan bagaimana
pentingnya urusan itu, walaupun urusan itu di luar kemampuan manusia.
Ilmu Allah tidak hanya meliputi segala macam urusan yang ada di bumi
yang kebiasaannya urusan ini dapat dibayangkan oleh mereka secara mudah.
Juga meliputi segala macam urusan di langit yang urusannya lebih rumit
dan lebih sukar tergambar dalam pikiran mereka. Hal ini untuk menguatkan
arti dari keluasan ilmu Allah sehingga terasalah keagungan dan
kekuasaan-Nya. Di akhir ayat ini Allah swt. menyatakan dengan tandas
bahwa tidak ada satu urusan pun melainkan tercatat dalam kitab yang
nyata yaitu Lohmahfuz, maksudnya segala macam urusan itu semuanya
terkontrol dan terkendali serta terkuasai oleh ilmu Allah Yang Maha Luas
itu dan tercatat dalam kitab-Nya yang bernilai tinggi dan sempurna
uraiannya. Allah swt. berfirman:
وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ Artinya: Dan
pada sisi Allahlah kunci-kunci semua yang gaib tak ada yang
mengetahuinya kecuali Dia sendiri. (Q.S. Al-An'am: 59)
Allah telah mencatat segala kejadian-kejadian didalam Lauh Mahfuzh, dari
permulaan zaman sampai akhir zaman. Baik berupa kisah nabi dan rasul,
azab yang menimpa suatu kaum, pengetahuan tentang wahyu para nabi dan
rasul, tentang penciptaan alam semesta dan lain-lain. Sekalipun jika
kita tidak melihat segala sesuatu, semua itu ada dalam Lauh Mahfuzh.
Menurut Tafsir Qurtubi, semua takdir makhluk Allah telah ditulis-Nya di
Luh Mahfuz, bisa saja dihapus/ dirubah oleh Allah atau Allah menetapkan
sesuai dengan kehendak-Nya. Kemudian yang dapat merubah takdir yang
tertulis dalam Lauh Mahfuz itu hanya doa dan perbuatan baik/ usaha.
Muhammad bersabda: "Tiada yang bisa merubah takdir selain doa dan tiada
yang bisa memanjangkan umur kecuali perbuatan baik".[1]Lauh Mahfuzh akan
kekal selamanya karena ia termasuk makhluk yang abadi, selain Lauh
Mahfuzh makhluk abadi ada 'Arsy, surga, neraka dan lain-lain.
Para Jin Mencuri Berita
Allah telah menjadikan Lauh Mahfuzh ini sebagai tempat untuk menyimpan
segala rahasia dilangit dan di bumi. Jin dari golongan setan akan
berusaha untuk mencuri segala rahasia yang tertulis di dalamnya untuk
menipu manusia. Disamping itu, mereka juga memiliki tujuan untuk
memainkan aqidah manusia. Sebab itu Allah melarang manusia untuk
mengetahui ramalan nasib, karena peramal itu dibantu oleh jin dan jin
itu akan membisikkan hasil curian itu kedalam hati peramal. Jika ada
setan yang berusaha mencuri berita, maka malaikat penjaga Luh Mahfuzh
akan melemparkan bintang ke arah pencuri berita tersebut, pelemparan ini
yang terkadang kita lihat dengan adanya bintang jatuh atau meteor.“ Dan
sesungguhnya Kami telah menciptakan gugusan bintang-bintang (di langit)
dan Kami telah menghiasi langit itu bagi orang-orang yang memandang
(nya), dan Kami menjaganya dari tiap-tiap syaitan yang terkutuk, kecuali
syaitan yang mencuri-curi (berita) yang dapat didengar (dari malaikat)
lalu dia dikejar oleh semburan api yang terang. (Al Hijr 16 - 18) ”
Tidak banyak diketahui tentang Lauh Mahfuz dan para ulama jarang
menjabarkannya dengan detail, karena ia adalah urusan alam ghaib/
rahasia Allah. Dalam Al-Quran pun, Luh Mahfuz di sebut secara sepintas
saja, tanpa penjelasan lebih lanjut. Sebagai contohnya dalam satu
peristiwa yang amat bersejarah, ahli tafsir menyatakan Luh Mahfuz
disebut berkaitan dengan Nuzul Al-Quran dari Luh Mahfuz ke Baitul Izzah
(langit dunia) secara sekaligus yang terjadi dalam bulan Ramadhan.
Sejauh ini, kita telah menyaksikan kesimpulan ilmu pengetahuan tentang
alam semesta dan asal-usul mahluk hidup. Kesimpulan ini adalah bahwa
keseluruhan alam semesta dan kehidupan itu sendiri diciptakan dengan
menggunakan cetak biru informasi yang telah ada sebelumnya.
Kesimpulan yang dicapai ilmu pengetahuan modern ini sungguh sangat
bersesuaian dengan fakta tersembunyi yang tercantum dalam Alquran
sekitar 14 abad yang lalu. Dalam Alquran, Kitab yang diturunkan kepada
manusia sebagai Petunjuk, Allah menyatakan bahwa Lauh Mahfuzh (Kitab
yang terpelihara) telah ada sebelum penciptaan jagat raya. Selain itu,
Lauh Mahfuzh juga berisi informasi yang menjelaskan seluruh penciptaan
dan peristiwa di alam semesta.
Lauh Mahfuzh berarti terpelihara (mahfuzh), jadi segala sesuatu yang
tertulis di dalamnya tidak berubah atau rusak. Dalam Alquran, ini
disebut sebagai Ummul Kitaab (Induk Kitab), Kitaabun Hafiidz (Kitab Yang
Memelihara atau Mencatat), Kitaabun Maknuun (Kitab Yang Terpelihara)
atau sebagai Kitab saja. Lauh Mahfuzh juga disebut sebagai Kitaabun Min
Qabli (Kitab Ketetapan) karena mengisahkan tentang berbagai peristiwa
yang akan dialami umat manusia.
Dalam banyak ayat, Allah menyatakan tentang sifat-sifat Lauh Mahfuzh.
Sifat yang pertama adalah bahwa tidak ada yang tertinggal atau
terlupakan dari kitab ini:
Dan pada sisi Allah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang
mengetahuinya kcuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang ada di
daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan
Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam
kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan
tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (QS. Al An’aam, 6:59)
Sebuah ayat menyatakan bahwa seluruh kehidupan di dunia ini tercatat
dalam Lauh Mahfuzh:
Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang
terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat (juga) seperti kamu.
Tiadalah Kami alpakan sesuatupun di dalam Al Kitab, kemudian kepada
Tuhanlah mereka dihimpunkan. (QS. Al An’aam, 6:38)
Di ayat yang lain, dinyatakan bahwa di bumi ataupun di langit, di
keseluruhan alam semesta, semua makhluk dan benda, termasuk benda
sebesar zarrah (atom) sekalipun, diketahui oleh Allah dan tercatat dalam
Lauh Mahfuzh:
Kami tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari
Alquran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami
menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya.
Seperti yang sudah disebutkan diatas tidak luput dari pengetahuan
Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. Tidak
ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebi besar dari itu,
melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (QS.
Yunus, 10:61)
Segala informasi tentang umat manusia ada dalam Lauh Mahfuzh, dan ini
meliputi kode genetis dari semua manusia dan nasib mereka:
(Mereka tidak menerimanya) bahkan mereka tercengang karena telah datang
kepada mereka seorang pemberi peringatan dari (kalangan) mereka sendiri,
maka berkatalah orang-orang kafir: Ini adalah suatu yang amat ajaib.
Apakah kami setelah mati dan setelah menjadi tanah (kami akan kembali
lagi)?, itu adalah suatu pengembalian yang tidak mungkin. Sesungguhnya
Kami telah mengetahui apa yang dihancurkan oleh bumi dari (tubuh-tubuh)
mereka, dan pada sisi Kamipun ada kitab yang memelihara (mencatat). (QS.
Qaaf, 50:2-4)
Ayat berikut ini menyatakan bahwa kalimat Allah di dalam Lauh Mahfuzh
tidak akan ada habisnya, dan hal ini dijelaskan melalui perumpamaan:
Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi
tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya,
niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah.
Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Luqman, 31:27)
Fakta-fakta yang telah kami paparkan dalam tulisan ini membuktikan
sekali lagi bahwa berbagai penemuan ilmiah modern menegaskan apa yang
diajarkan agama kepada umat manusia. Keyakinan buta kaum materialis yang
telah dipaksakan ke dalam ilmu pengetahuan ternyata malah ditolak oleh
ilmu pengetahuan itu sendiri.
Sejumlah kesimpulan ilmu pengetahuan modern tentang informasi berperan
untuk membuktikan secara obyektif siapakah yang benar dalam perseteruan
yang telah berlangsung selama ribuan tahun. Perselisihan ini telah
terjadi antara paham materialis dan agama.
Pemikiran materialis menyatakan bahwa materi tidak memiliki permulaan
dan tidak ada sesuatu pun yang ada sebelum materi. Sebaliknya, agama
menyatakan bahwa Tuhan ada sebelum keberadaan materi, dan bahwa materi
diciptakan dan diatur berdasarkan ilmu Allah yang tak terbatas.
Fakta bahwa kebenaran ini, yang telah diajarkan oleh agama-agama wahyu
seperti Yahudi, Nasrani dan Islam sejak permulaan sejarah, telah
dibuktikan oleh berbagai penemuan ilmiah, merupakan petunjuk bagi masa
berakhirnya atheis yang sebentar lagi tiba. Umat manusia semakin
mendekat pada pemahaman bahwa Allah benar-benar ada dan Dialah yang Maha
Mengetahui. Hal ini sebagaimana pernyataan Alquran kepada umat manusia
dalam ayat berikut:
Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa
saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu
terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian
itu amat mudah bagi Allah. (QS. Al Hajj, 22:70)
Di antara kemurahan Allah terhadap manusia adalah Dia tidak saja
memberikan sifat yang bersih yang dapat membimbing dan memberi petunjuk
kepada mereka ke arah kebaikan, tetapi juga dari waktu ke waktu Dia
mengutus seorang rasul kepada umat manusia dengan membawa kitab dari
Allah, dan menyuruh mereka beribadah hanya kepada Allah saja,
menyampaikan kabar gembira, dan memberikan peringatan agar menjadi bukti
bagi manusia.
"(Mereka kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan
pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah
Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa
lagi Maha Bijaksana." (An Nisaa':165).
Perkembangan dan kemajuan berpikir manusia senantiasa disertai wahyu
yang sesuai dan dapat memecahkan problematika yang dihadapi kaum setiap
rasul, sampai perkembangan itu mengalami kematangannya. Allah
menghendaki agar risalah Muhammad saw. muncul di dunia ini, maka
diutuslah beliau saat manusia tengah mengalami kekosongan para rasul,
untuk menyempurnakan "bangunan" saudara-saudara pendahulunya (para
rasul) dengan syariatnya yang universal dan abadi, serta dengan kitab
yang diturunkan kepadanya, yaitu Alquran.
Rasulullah saw. bersabda yang artinya, "Perumpamaan diriku dengan para
nabi sebelumku adalah bagaikan orang yang membangun sebuah rumah. Ia
kemudian membaikkan dan memperindah rumah itu, kecuali letak satu bata
di sebuah sudutnya. Maka orang-orang pun mengelilingi rumah itu, mereka
mengaguminya dan berkata, 'Seandainya bukan karena batu bata ini,
tentulah rumah itu sudah sempurna.' Maka akulah batu bata itu, dan
akulah penutup para nabi." (HR Muttafaqun 'Alaihi).
Alquran adalah risalah Allah kepada seluruh manusia. Banyak nas yang
menunjukkan hal itu, baik di dalam Alquran maupun sunah. "Katakanlah,
'Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua ...."
(Al-A'raaf: 158).
"Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan (Alquran) kepada
hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam." (Al
Furqaan: 1).
Rasulullah saw. bersabda, "Setiap nabi diutus kepada kaumnya secara
khusus, sedang aku diutus kepada se
